Ngapunten, Kopinya monggo Bawa Sendiri

Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan

KUE KA'AK



Saat itu saya berkunjung ke salah satu tetangga saya bernama pak Kadir, kurang lebih seperti itu kami dikampung memanggilnya, dalam rangka silaturrahim disuasana Idul Fitri / Lebaran, beliau seorang pengusaha keturunan Arab, saya baru tahu setelah beliau meninggal kalau namanya adalah Abdul Qadir Mauladdawilah, yang menurut yang saya tahu dari beberapa pencatatan nasab klan Mawladdawilah adalah salah satu klan yang bersambung kepada Rasulullah saw. mungkin jika beliau hidup dimasa kini, juga akan dipanggil "Habib". 
Dalam kunjungan saya saat itu, kebetulan disuguhkan dimeja tamu beliau tersaji beberapa kue & salah satunya yang saya makan terasa asing dilidah, rasanya semacam ada campuran khas pedas-pedas aroma jintan didalamnya. 

Kak Ipah, begitu biasa kami menyapa, adalah istri Pak Kadir, saya nggak yakin juga namanya Kak Ipah, karena disini semua orang keturunan Arab dipanggil kak Ipah, bahkan seharusnya tidak semua orang berwajah timur tengah dipanggil kak Ipah, karena saya rasa Kak Ipah adalah sebutan untuk seorang "Syarifah" yang bernasab ke Rasulullah saw. pula yang didialek-kan dengan lidah orang lokal (jawa) sini.

Saya bertanya sama Kak Ipah, ini kue apa? beliau cuma senyum-senyum saja, semakin membuat saya penasaran, rasa seperti ini meskipun terasa asing namun cukup cocok dilidah saya, sayapun cukup menikmatinya saja, sampai suatu ketika setelah beberapa tahun berlalu, bahkan saya sendiri sudah lupa sama Kue ini, saat Haul Habib 'Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Simtud-duror) di Solo dibagikan kue yang rasanya kemudian mengingatkan saya pada kue di rumahnya pak Kadir tetangga saya, saya pun baru tahu kalau kue itu bernama "Ka-'aK" karena di plastik pembungkusnya ditulisi seperti itu. 


Saya pikir tidak begitu penting mengetahui bahan-bahan membuat kue ini, yang jelas selepas Haul di Solo saya menemukan mbak-mbak yang jualan kue ini dipinggir jalan, saya sempet memborong beberapa toples untuk istri saya, bapak saya, dan mertua, sampai dirumah ternyata kue ini menurut cita rasa saya paling enak sebagai penyanding minum kopi dibanding biskuit penyanding kopi yang biasa disajikan di beberapa gerai kopi beken ataupun jika dibanding pisang goreng di warkop pinggir jalan, selamat mencoba.





Share:

SHOLAT (Urgensi & Implementasi)

Bermula ketika saya membaca surat Thoha, sampai pada ayat :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ


"Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa"

Sepintas kemudian membuat saya berpikir, terkadang (bahkan sering juga sih), kita mengejar apa yang namanya rizki duniawi (baik harta, tahta, dsb) sampai melalaikan kita dengan urusan yang benar-benar oleh sebagian umat islam sendiri dianggap sepele, yaitu SHOLAT (saya garis bawah, huruf kapital plus tebal). 

Pernyataan pada ayat ini membuat saya (pribadi) kemudian berasa ter-"tabok" , betapa yang seharusnya kita sibukkan diri kita adalah dalam urusan ibadah, karena kita diciptakan hakikatnya hanya untuk ibadah, sebagaimana dalam ayat lain di sebutkan "Sesungguhnya tiada aku ciptakan Jin & manusia, kecuali hanya untuk ibadah kepada-KU" (Adz-dzaariyaat / 56) , sedangkan tonggak segala ibadah adalah SHOLAT , sampai-sampai dalam ayat yang disebutkan dalam surat Thoha tersebut, Allah swt seolah-menyatakan, Dialah yang menjamin Rizki setiap hambanya. 

Nah, sekarang .. seserius itukah kita memikirkan tentang Sholat ini? fenomena yang saya temui baik pada sebagian orang, atau bahkan mungkin seringkali terjadi pada diri saya sendiri (semoga tidak keterusan & diberi kesempatan untuk bertaubat & memperbaiki diri) adalah, 

1. Menganggap Sholat adalah hal yang remeh & ringan
2. Melalaikan waktu sholat
3. Melalaikan ilmu tentang sholat

tiga hal ini diantara sebagian besar yang terjadi diantara lingkungan kita, dari point satu itu saja sudah cukup membuat kita terjerumus pada kelalaian poin berikutnya. Melalaikan waktu sholat pada poin kedua terkadang lebih dikarenakan kita terlena dengan segala aktifitas keseharian, sedangkan poin ketiga tentang ilmu (pengetahuan) tentang sholat ini adalah momok dari pada kelalaian yang "bahkan" sebagian orang tidak menyadarinya. 

Hampir tidak hanya sekali saja, saya menjumpai seorang melakukan Jamak & atau Qoshor Sholat tidak memenuhi syaratnya, banyak orang melakukan sholat hurmat waktu tanpa mengulanginya / mengqodho lagi (dalam madzhab syafii), orang tayammum diatas pesawat dengan menggunakan debu-debu yang menurut prasangkanya (dzon) nya terdapat di dinding / jok pesawat, dan ini sebagian bahkan dilakukan oleh sebagian para jamaah umroh. Hal-hal semacam ini tentunya dikarenakan kelalaiannya dalam mengaji (kurangnya ilmu/pengetahuan) tentang perihal tata cara sholat. 








Share:

Ragam "KAMU" dalam Bahasa Jawa

Ada seorang teman dari sunda, bilang bahwa dia dulu di pondok juga memberikan makna (Nyarahi) kitab juga dengan menggunakan bahasa Jawa, tapi kenapa bahasa yang dipakai untuk "nyarahi" tersebut ternyata sulit diaplikasikan dalam pergaulan sehari-hari saat bersama teman-teman nya yang dari Jawa. Dari cerita itu kemudian saya baru sadar, bahwa memang bahasa yang digunakan saat nyarahi banyak berbeda dengan bahasa Jawa pergaulan.
Terinspirasi dari pengalaman itu saya kemudian teringat salah satu kata yang di Jawa, khususnya Jawa Timur memiliki padanan kata yang sangat banyak, terhitung paling tidak diantaranya sebagai berikut : 

- Kowe : kata ini merupakan tingkatan tutur kata (unggah-ungguh) yang disebut "Ngoko Lugu" , dan biasa dipakai untuk pergaulan sejenis, sekasta, seumuran, atau ditujukan untuk orang yang lebih tinggi kedudukannya, lebih tua umurnya kepada orang yang lebih rendah & lebih muda.

Kata "Kowe" ini umum dipakai hampir diseluruh tanah Jawa (Jawa Tengah & Jawa Timur) di Jawa Timur sendiri lebih banyak dipakai di masyarakat daerah bagian barat, atau lebih akrab disebut daerah "kulonan".

- Panjenengan : Kosa kata yang satu ini, dipakai juga hampir diseluruh tanah Jawa (Jawa Tengah & Jawa Timur), dan merupakan tingkatan tutur kata (unggah-ungguh) yang lebih halus disebut "Krama Inggil" , biasa digunakan untuk seorang yang lebih rendah kedudukannya atau lebih muda umurnya kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya atau lebih tua.

- Sampeyan : mulanya saya berpikir kata ini juga umum dipakai di seluruh tanah Jawa, namun saya temukan ada beberapa daerah yang kosa kata "sampeyan" ini meskipun cukup dimengerti maksudnya tapi tidak umum dipakai untuk bahasa pergaulan sehari-hari, seperti di daerah Klaten (setahu saya), sedang untuk di Jawa Timur boleh dikatakan seluruh daerah mengenal & menggunakannya meski dengan dialek yang sedikit berbeda, seperti : Sampeyan, sampiyan.

- Ko'en (Kowen) : ini hampir sama dengan kata "kowe" dalam penggunaannya, namun lingkup daerah penggunanya hanya lebih akrab dipakai di beberapa daerah saja di Jawa Timur, seperti : Malang, Surabaya, Sidoarjo, dan mungkin sebagian Pasuruan & Gresik. 

- Riko : Riko lebih umum digunakan dalam dialek Osing (Banyuwangi), tapi di Jawa Timur sebagian juga menggunakannya, dan meski bahasa ini dalam penggunaannya mirip dengan kata "Kowe" dalam sebagian pergaulan juga cocok untuk disamakan dengan "sampeyan" dalam arti bisa dibuat untuk orang yang lebih tua, tapi belum bisa sepadan dengan kata "panjenengan".

- Peno : Kata ini juga hampir sama pengertian & penggunaannya dengan kata "Riko" , hanya saja lingkup daerah penggunanya lebih didominasi daerah Malang, Surabaya, Sidoarjo, sebagian Pasuruan & Gresik, dll, dan lagi kata ini sering dipakai di pentas kesenian Ludruk khas Jawa Timur. 

- Sliramu : Mungkin kata ini mirip dengan alih bahasa indonesia-nya adalah Dirimu, atau dalam bahasa dialek jawa lainnya di ucapkan dengan kata "Awakmu".

- Siro : Nah, ini adalah kata yang saya maksud, saya sendiri jarang atau mungkin seingat saya belum pernah menjumpai kata ini di pakai untuk bahasa pergaulan, saya hanya menjumpainya saat ngaji membaca kitab gundul dahulu kala. 


Demikian sekelumit tentang kosa-kata bahasa Jawa "Kamu" , jikalau ada yang kurang pas silahkan memberikan koreksinya, tapi mohon maaf tak bisa kirim amplopan-nya. semoga tetap berkenan.




Share:

Antara Hutang & Berkah



Dalam Al-qur'an satu ayat yang disebut-sebut sebagai ayat terpanjang adalah Surat Al-baqarah ayat 282 yang berisi penjelasan tentang transaksi hutang-piutang, saya bukan ingin membahas tentang isi kandungan ayat tersebut, tapi kemudian teringat saya pernah mendengar betapa ayat ini mengisyaratkan begitu panjang & ribetnya jika seorang sudah "terjerumus" pada urusan hutang-piutang, bukan saja ketika seorang masih hidup, tapi ketika sudah mati & di akhirat pun hutang yang belum terselesaikan akan mengejarnya, sebagaimana Rasul saw. pernah bersabda : 


“Demi Tuhan yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi, kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi sedangkan ada tanggungan utang padanya maka ia tidak akan masuk surga sampai melunasi utangnya.” (Nasai, Ath-Thabrani, Al-Hakim)

Konsekwensi lainnya yang berkaitan dengan urusan hutang itu salah satunya yang disabdakan rasulullah saw. pula ketika para sahabat bertanya kenapa Rasulullah begitu banyak berdoa agar terhindar dari hutang. Beliau saw bersabda, 

“Sesungguhnya jika seseorang terlilit utang ia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari.” (Mutafaq ‘alaih)

Konsekwensi diatas kemudian akan memunculkan konsekwensi yang berkepanjangan pula, diantaranya : putusnya silaturrahmi, saling bermusuhan, turunnya martabat diri, dan lainnya. 

Suatu ketika, betapa gembiranya saya mendapatkan fasilitas dari beberapa Bank dengan memberikan kartu kredit, dimana saya dapat mendapatkan pinjaman/kredit tanpa Agunan atau barang jaminan lagi, apalagi dengan limit yang cukup lumayan untuk ukuran karyawan swasta selevel saya, namun seiring perjalanan waktu, saya merasakan ada sesuatu yang mengganjal pada tiap transaksi saya, bukan ganjalan dari segi administrasi transaksi, namun "mungkin" ini yang disebut "Tidak barokah" , karena setiap kali saya menggunakan kartu kredit rasanya berat untuk melakukan pelunasan, bahkan suatu kali saya telah melunasi seluruh tagihan kartu kredit saya yang ada empat jenis beberapa diantaranya dikeluarkan oleh Bank yang berbeda, selama kartu itu masih saya simpan selalu saja ada yang membuat saya untuk menggunakannya, meski sebenarnya saya belum kepepet untuk menggunakan fasilitas kreditnya. Apakah mungkin anda juga mengalami hal yang demikian?!! =D

Memang, secara sadar sekuat tenaga sebaiknya kita menghindari yang namanya hutang, baik kepada seorang ataupun terlebih kepada Finance/Bank, jika memang terpaksa harus berhutang usahakan mempertimbangkan beberapa hal ini : 

1. Hutang tidak melebihi nominal aset yang kita punya
2. Hutang kepada seorang yang tidak mensyaratkan kembali lebih (Riba)
3. Jika hutang kepada Bank usahakan memilih yang syariah
4. Setiap kali mendapatkan penghasilan sisihkan untuk membayar hutang, berapapun
5. Hutang untuk keperluan produktif atau mendesak saja
6. Jangan lupa berdo'a supaya terbebas dari hutang

Jika memang kita beruntung mendapatkan hutang dari seorang yang tidak mensyaratkan kembali lebih, selayaknya lah kita tetap memberikannya lebih, baik dalam bentuk barang atau uang paling tidak sebagai ungkapan terima kasih kita padanya, sebagaimana dalam hadist rasulullah saw. juga mengungkapkan : 

خيركم أحسنكم قضاء

"Sebaik-baik seorang diantara kalian adalah yang paling baik dalam melunasi hutangnya"



Terkadang, hutang memang dari sesuatu yang sebenarnya bisa dianggap remeh namun akhirnya membuat seorang bisa terjebak, dan terperangkap didalamnya, Rasulullah saw. pernah mengajarkan doa yang dianjurkan untuk dibaca saat pagi & sore hari, dipetik dari kisah dalam sebuah hadist yang redaksinya yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudlriy sebagai berikut : 


دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ أَبُو أُمَامَةَ فَقَالَ: يَا أَبَا أُمَامَةَ مَا لِي أَرَاكَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ ؟ قَالَ: هُمُومٌ لَزِمَتْنِي، وَدُيُونٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلَامًا إِذَا أَنْتَ قُلْتَهُ أَذْهَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّكَ، وَقَضَى عَنْكَ دَيْنَكَ ؟ قَالَ: قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: قُلْ إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ، قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمِّي، وَقَضَى عَنِّي دَيْنِي


Satu hari Rasulullah (saw) masuk ke masjid, dan rasulullah mendapati seorang sahabat dari kalangan Anshor bernama Abu Umamah, rasul saw. bertanya : "wahai Abu Umamah, apa gerangan yang membuatku mendapatimu berdiam di masjid padahal bukan waktu sholat?" , Abu Umamah menjawab : "gundah-gulana & perkara hutang sedang menimpaku yaa Rasulallah", Rasul pun berkata padanya : "maukah engkau aku ajarkan doa yang mana jika engkau membacanya Allah akan menghapus kegalauanmu & melunaskan hutangmu?" , Abu Umamah menjawab : "Baik Yaa Rasulallah" , beliau kemudian mengajarkan doa berikut supaya dibaca waktu pagi & petang, sbb : 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Abu Umamah berkata, "Kemudian aku baca doa tersebut, dan Allah menghilangkan kegalauanku & melunaskan hutang-hutangku".

Cerita tentang hutang yang melilit ini tidak hanya terjadi pada Sahabat Abu Umamah, Sayyidina Abu bakar (ra), pun pernah mengalaminya, bahkan Sayyidah 'Aisyah sendiri pernah mempunyai hutang satu dinar & 3 Dirham kepada sayyidah Asma' , sampai beliau sendiri merasa malu bila bertemu dengannya, sebagaimana redaksi kisah dari Sayyidah 'Aisyah (rah) tentang doa yang disampaikan oleh Rasulullah (saw) yang juga pernah diajarkan oleh Nabi Isa bin Maryam (as) kepada para sahabatnya yang petikannya dapat dijumpai di banyak kitab Hadist, kitab doa, dan lainnya, Nabi Isa mengatakan : 


“Seandainya diantara kalian ada yang memikul hutang sebesar Gunung , maka dengan doa ini Allah akan melunasinya“

maka dengan doa ini, Allah benar-benar memudahkan Sayyidina Abu bakar & Sayyidah 'Aisyah melunasi hutang-hutangnya.

عَنْ عَائِشَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، دَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ ،  فَقَالَ : هَلْ سَمِعْتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ دُعَاءً كَانَ يُعَلِّمَكِهِ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ ، وَذَكَرَ أَنَّ عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ ، كَانَ يُعَلِّمُهُ أَصْحَابَهُ ، وَكَانَ يَقُولُ :  " لَوْ كَانَ عَلَى أَحَدِكُمْ جَبَلُ دَيْنٍ ذَهَبًا ، قَضَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ ، ثُمَّ يَقُولُ : اللَّهُمَّ يَا فَارِجَ الْهَمِّ ، كَاشِفَ الْغَمِّ ، مُجِيبَ دَعْوَةَ الْمُضْطَرِّينَ ، رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَرَحِيمَهُمَا ، أَنْتَ تَرْحَمُنِي ، فَارْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ "  . أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيُّ فِي حَدِيثِهِ :  قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : " وَكَانَتْ عَلَيَّ ذُبَابَةٌ مِنْ دَيْنٍ ، وَكُنْتُ لِلدَّيْنِ كَارِهًا ، فَلَمْ أَلْبَثْ إِلَّا يَسِيرًا ، حَتَّى جَاءَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِفَائِدَةٍ ، فَقَضَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا عَنِّي مَا كَانَ عَلَيَّ مِنْ دَيْنٍ " . قَالَتْ عَائِشَةُ : " كَانَ لِأَسْمَاءَ عَلَيَّ دِينَارٌ وَثَلَاثَةُ دَرَاهِمَ ، وَكُنْتُ أَسْتَحِي مِنْهَا كُلَّمَا نَظَرَتْ إِلَيْهَا ، فَكُنْتُ أَدْعُو بِذَلِكَ الدُّعَاءِ ، فَمَا لَبِثْتُ إِلَّا يَسِيرًا حَتَّى جَاءَنِي اللَّهُ بِرِزْقٍ مِنْ غَيْرِ مِيرَاثٍ وَلَا صَدَقَةٍ ، فَقَضَيْتُهَا ، وَحَلَّيْتُ ابْنَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ ثَلَاثَ أَوَاقٍ ، وَفَضَلَ لَنَا فَضْلٌ حَسَنٌ " .

Tulisan ini hanya sepenggal sharing saja, semoga bermanfaat ditengah semakin maraknya dunia "perhutang-hutangan" ini, semoga tidak terjebak pada kemudahan yang ditawarkan, semoga senantiasa tetap sadar hati, bahwa yang perlu kita garis bawah bukan kata Mudah -nya, tapi garis bawah dengan cetak tebal-nya adalah kata HUTANG, semudah apapun, hutang akan membawa kesulitan tersendiri bagi diri kita.


على العاقل ان يكون عارفا بزمانه مستقبلا في شأنه عارفا بربه
Artinya : orang pintar harus paham kondisi zaman. Melakukan yang terbaik untuknya, seraya mengingat Tuhan.












Share:

Kemuliaan Para Ahlul Bayt Nabi saw.



انما يريد الله ليذهب عنكم‏ الرجس اهل البيت و يطهركم تطهيرا

"Sesungguhnya Allah hanyalah hendak menyingkirkan kotoran dari kalian Ahli Bayt dan menyucikan kalian sesuci-sucinya" (QS. Al-ahzab 33) 

Dengan ayat ini maka tiada celah bagi kita untuk MEMBENCI / MENCELA para ahlu baytin Nabi, baik ketika mereka berlaku "kurang baik" ataupun terlebih mereka orang-orang yang 'alim & salih. 


Bagi kita yang kebetulan berbeda pandangan, berbeda ide dengan mereka, hendaklah sebisa mungkin kita tetap menjaga adab juga menjaga hati kita.

---------- 


Keberadaan mereka para Ahlul Bayt masa sekarang ini, ada yang "dzohir" (tampak kasat mata), maka tampakkanlah pula rasa ta'dzim kita, jika kebetulan mereka termasuk orang sholeh maka ikutilah, jika mereka kebetulan bukan orang sholeh/'alim, setidaknya tetap jaga hati & adab kita.

Sedangkan, beberapa diantara mereka ada yang "mastur" (tidak tampak), maka tetap berhati-hatilah untuk menjaga hati setiap muslim, terlebih para 'alim/'ulama' , terkadang diantara mereka ada yang menyembunyikan nasabnya yang tersambung pada rasulullah saw. sebagai ahlul bayt. 


---------- 


Resiko terhadap lima hal ini akibatnya bisa FATAL (wal-iyyaadzu biLLaah), disabdakan oleh rasulullah saw. sebagai berikut : 


قال النبي صلى الله عليه وسلم : خمسة يموتون على سوء الخاتمة لا تقبل لهم صلاة ولا زكاة ولا صيام ولا حج، تارك صلاة الصبح والذي دعي الى الخير والعلم ابى والزاني والعاق لوالديه والمبغض للعلماء واهل بيتي (رواه الطبراني والحاكم والترمذي).

Lima Orang Ini Akan Mati dalam keadaan Suu-ul Khotimah, di tolak solatnya, zakatnya, puasanya dan hajinya, yaitu : 

1.      Orang yang meninggalkan Sholat Subuh.
2.      Orang yang menolak diajak menuju kebaikan & belajar ilmu (agama
3.      Orang yang berzina.
4.      Orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya.
5.      Orang yang membenci kepada Ulama’ & Ahli bayt-ku

Uraian tentang Ahlul bayt ini sejatinyalah sangat panjang, namun yang singkat ini semoga cukup sebagai peringatan atas kemualiaan mereka & pentingnya menjaga hati bagi saya pribadi khususnya, dan bagi saudaraku muslimin umumnya. 


-------------


Imam Abdurrahman Ad-diba'i dalam kitab Maulidnya mengungkapkan untaiannya tentang Ahlul Bayt : 

 
فَـهُمُ الْقَوْمُ الَّذِيْنَ هُــــــــــدُوْا - وَبِـفَضْلِ اللهِ قَدْ سَـــــــــــعِــــدُوْ

Merekalah kaum yang memperoleh hidayah.
Dan dengan karunia Allah mereka benar-benar bahagia.

وَ لِـغَيْرِ اللهِ مَــــا قَـصَـــــدُوْا - وَمَـعَ الْـقُــرْاٰنِ فِيْ قَـــــــــــــــــرَنِ

Mereka tak memiliki tujuan Kepada selain Allah
Dan beserta Al-Quran mereka berpegangan

اَهْلُ بَيْتِ الْمُصْطَفٰــى الطُّهُرِ - هُمْ اَمَـــــانُ الْاَرْضِ فَـــــــــــادَّكِر

Ahli bait Al-mushthofa yang disucikan.
Mereka itu pengaman bumi, maka ingatlah

شُـبِّهُوْا بِالْأَنْـجُـــــمِ الزُّهُــــــرِ - مِـثْلَمَا قَدْجَـــــــــــآءَ فِى السُّــــنَنِ

Mereka itu bagaikan bintang yang gemerlapan.
Perumpamaan itu telah benar-benar datang di dalam hadits Nabi

 وَسَـفِـيْنٌ لِلـنَّـجَـــــــــــــاةِ اِذَا - خِفْتَ مِنْ طُوْفَــــــــانِ كُلِّ اَذٰى

Dan bagaikan bahtera penyelamat ketika..
Engkau takut dari topan badai segala duka

فَانْجُ فِـيْهَـــــــا لَاتَكُوْنُ كَــــذَا - وَاعْــــتَصِمْ بِاللهِ وَاسْــــــــــــــتَعِنِ

Maka selamatlah engkau di dalamnya tiada khawatir lagi
Dan berpegang teguhlah kepada Allah serta mohonlah pertolongan

رَبِ فَانْفَعْنَــــــــا بِـبَرْكَتِهِـــــــمْ - وَاهْــــدِناَ الْحُسْنٰــى بِحُرْمَتِهِـــــــــمْ

Tuhanku, dengan keberkahan mereka, berilah kami kemanfaatan.
Dan demi kehormatan mereka, tunjukkan kami kepada kebaikan

وَاَمِـتْنَـــا فِي طَــــرِيْقَــــــــتِهِـــمْ - وَمُعَـــــــــــافَاةٍ مِـنَ الْـفِـــــــــــتَنِ

Dan wafatkanlah kami di jalan mereka
Dan selamat dari segala fitnah



Share:

Nyarahi Kitab (Kuning/Gundul)

Kitab, begitulah sering kita menyebutnya dengan sebuah literatur ilmiyah karya para 'ulama salaf yang menjadi "makanan" sehari-hari saat nyantri, akrab juga disebut dengan Kitab Kuning, atau dalam bahasa arab disebut "Shofro" yang susunan hurufnya hampir menyerupai huruf pada kata "Shofir" yang artinya (kosong), karenanya kitab tersebut memang ditulis tanpa makna / terjemah, dan juga tanpa "harokat", sehingga kadang kitab kuning ini di sebut juga dengan "Kitab Gundul"

Baca kitab, sambil nyarahi (memberikan makna, biasanya di diktekan / dibacakan oleh kyai/ustadz) adalah satu diantara kegiatan sehari-hari yang menjadi aktifitas rutin dipesantren, baik para santri pondok maupun santri madrasah diniyyah, sehingga tak jarang para alumni, atau santri yang telah lama meninggalkan suasana saat-saat nyantri, sering kangen dengan suasana-suasana duduk didalam majelis bersama kyai/ustadz sambil nyarahi kitab.

Para santri santri di Jawa / yang pernah mondok di Jawa (khususnya), cukup familier dengan rumus-rumus atau huruf-huruf sebagai tanda i'rob yang di sesuaikan dengan makna dalam bahasa jawa yang dibutuhkan para santri, seperti huruf "mim" sebagai tanda "mub-tada" yang di sesuai alihkan dengan kata dalam bahasa jawa yaitu "utawi", huruf "kho" sebagai tanda "khobar" yang disesuai alihkan dengan kata dalam bahasa jawa yaitu "iku", dan seterusnya.

Meskipun saya sendiri sudah cukup familier dengan tanda-tanda itu, namun saya sendiri tidak tahu siapakah yang pertama kali meng-ide-kan hal ini, dari desas-desus yang saya dengar baru-baru ini ada yang mengatakan rumusan ini hasil karya Syaikhona Kholil Bangkalan (Madura), dan versi yang lainnya menyebutkan bahwa penggagasnya adalah Kyai Sholeh Darat (Semarang).

Tapi yang jelas, siapapun penggagasnya, saya pikir rumusan seperti ini sangat bermanfaat bahkan hingga saat ini, hampir semua pesantren salaf menggunakan rumusan ini untuk nyarahi kitab, sambil belajar "metani" tanda-tanda i'rob sebuah kalimat.

Dan satu lagi yang baru saya ketahui belakangan ini, ternyata rumus ini ada syiir / nadzoman-nya, meskipun dulu saya hafal rumusnya bukan karena sengaja menghafal, tapi karena ter-setting otomatis di ingatan saya sebab terbiasa nyarahi waktu ngaji, sehingga bagi yang ingin menghafalnya cukup baik mengikuti syiiran / nadzoman ini, saya catat dari beberapa ceramahnya Kyai Said Agil Siroj, kurang lebih sebagai berikut :  

Fa utawi Limub-tada iku khobar
Opo Lifa-'ilin wa na-ibin dzohar
Wa ing limaf'ulin bihi 
krono limaf-Ulin Liajlihi wa ingdalem dzorof
Serto Limaf-’ulin ma-’ah 
wa kang sifah Silatu mausulin kadza mitslus sifah
Wa mutlaqul maf-’uli fihi klawan
kadzaka baabu jarri fathlubil bayan
Apane Littamyizi haale haalu
Fajtahiduu bil khifdzi ya Rijaalu

Mim = Dibaca "Utawi" / tanda sebagai "Mubtada"
Kho = Dibaca "iku" / tanda sebagai "Khobar"
Faa = Dibaca "opo" / tanda sebagai "Faa'il"
Mim Fa' = dibaca "ing" / tanda sebagai"maf'ul bih"
Lam = dibaca "kerono" / tanda sebagai "maf'ul li-ajlih"
Dzo' = dibaca "ing ndalem" / tanda sebagai "dzorof"
Mim 'Ain = dibaca "serto" / tanda sebagai "maf'ul ma'ah"
Shod = dibaca "kang" / tanda sebagai "Sifat (silah maushul)
Mim Tho' = dibaca "kelawan" / tanda sebagai "Muthlaqul maf'ul fiih"
Ba' = dibaca "kelawan" / tanda sebagai "Ba' jerr"
Ta' Mim = dibaca "Apane" / tanda sebagai "tamyiz"
Haa' = dibaca "Haale" / tanda sebagai "Haal"

Apabila ada yang kurang, mohon koreksi & disempurnakan, semoga bermanfaat.








Share:

Keberkahan Kitab Al-ajurumiyah & Mu-allif nya

Dalam "Fawaidul Mukhtarah", tulisan Habib Ali hasan Baharun, diceritakan bahwa Al imam Syaikhul Islam Zakariya Al Anshari Rh , beliau tak Segan mengadakan Halaqah pelajaran Kitab Al Ajrumiyah di majelis beliau.

Seseorang berkata kepada beliau ..."Anda masih mengadakan pengajian kitab Jurumiyah?? padahal Anda Seorang Alim Besar yang Mumpuni dalam Mengajar kitab-kitab Besar yang Panjang Lebar??"

Beliaupun menjawab "Aku tak akan meninggalkan Kitab yang telah Menyampaikan Aku menjadi seperti Sekarang ini."

Kitab MATAN AL-AAJURUMIYYAH ini ditulis dengan penuh keikhlasan oleh beliau Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash Shinhaji (kadang disebut Ash Shonhaji), yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Ajurum. Nisbah beliau Ash Shinhaji, merupakan nisbah kepada qabilah Shinhajah di daerah Maghrib. 

Beliau dikenal dengan nama Ibnu Ajurum. Ajurum yang berarti orang yang fakir dan seorang shufi, konon Ajurrum merupakan bahasa Barbar yang berarti orang yang meninggalkan kemewahan dan memilih laku sufi (Al Faqir Ash Shufy). Namun Syeikh Muhammad bin Ahmad Al Ahdal, pengarang kitab Al Kawakib Ad duriyah mengatakan bahwa beliau tidak menemukan orang Barbar yang mengetahui arti kata Al Ajurrum, namun beliau menemukan satu kabilah dari suku Barbar yang benama Al Ajurrum. Beliau lahir di kota Fas, Maghriby pada tahun 672H/1273M, pada tahun kelahiran beliau, seorang pakar dalam ilmu nahu, ibnu Malik pengarang kitab Al Fiyah wafat.

Sedangkan beliau sendiri wafat di Kota Fes pada hari Senin, tanggal 10 Safar 723 H.

Ibnu Ajurum mulanya belajar di kota Fas, kemudian waktu beliau berangkat haji ke kota Makkah, saat melewati Kairo, beliau belajar nahwu kepada As-Syeikh Abu Hayyan, salah seorang pakar nahwu negeri Andalusia, penyusun Kitab Al Bahrul Muhith, sampai beliau mendapatkan ijazah (rekomendasi) dari Abu Hayyan.

Ar-Ra’i dan Ibnul Haj menyebutkan bahwa Ibnu Ajurum menulis kitab ini di hadapan Ka’bah. Dan ditambahkan oleh Al Hamidi bahwa setelah menulis kitab ini, Ibnu Ajurum membuang kitabnya ke laut sambil berkata : “ Kalau memang kitab ini kutulis ikhlas karena Allah, maka niscaya kitab ini tidak akan basah ". Ternyata kitab Al Ajurumiyah yang beliau tulis tidak basah. Sehingga walaupun kitab ini tipis dan ditujukan bagi pemula, namun karya tulis beliau ini diterima oleh semua kalangan.

Dalam riwayat yang lain disebutkan, ketika Ibnu Ajurrum telah rampung menulis dengan menggunakan botol tinta, ia berniat meletakkan kitabnya tersebut di dalam air sambil berkata dalam hati : “ Ya Allah! Jika saja karyaku ini akan bermanfaat jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak akan luntur ". Ternyata dengan kuasa Allah tinta tersebut tidak luntur sedikitpun.

Dalam riwayat lainnya lagi disebutkan ketika merampungkan karya tulisnya ini beliau bermaksud menenggelamkan kitab beliau ini kedalam air yang mengalir. Jika kitab tersebut terbawa arus maka berarti kitab tersebut kurang manfaat sedangkan bila ia tetap tidak terbawa arus maka ia akan tetap dikaji orang dan akan besar manfaannya. Sambil meletakkan kitab tersebut kedalam air berliau berujar: “jurr Miyah, jurr Miyah” (mengalirlah wahai air). Anehnya setelah diletakkan dalam air kitab tersebut tetap bertahan tidak terbawa oleh arus. Subhanallah.

Madzhab Ibnu Ajurum dalam Penyusunan Kitab

Dalam menyusun kitab ini, Ibnu Ajurum mengikuti madzhab Kufah. Di antara bukti-buktinya adalah:

1. Beliau menyebut kasrah atau yang menggantikannya dengan khafd (خفض). Adapun pengikut madzhab Basrah menyebutnya dengan jar (جر).

2. Beliau berpendapat bahwa fi’il amr itu di-jazm-kan. Ini adalah pendapat madzhab Kufah. Adapun ahlu Bashrah berpendapat bahwa fi’il amr itu mabni ‘ala sukun.

3. Beliau mengganggap kaifama (كيفما) termasuk jawazim (alat yang menjazmkan fi’il mudhari’) sebagaimana pendapat Ahlu Kufah. Adapun ahlu Bashrah menolak kaifama sebagai jawazim.

4. Ibnu Ajurum menyatakan bahwa di antara tanda isim adalah menerima alif dan lam (الأليف واللام). Ini adalah pendapat ulama nahwu Kufah. Adapun ahlu Bashrah menggunakan istilah “al” (ال).

5. Beliau menyebutkan istilah asmaul khomsah (الأسماء الخمسة) yang terdiri dari
ذو مال فوك حموك أخوك أبوك

Adapun ahli nahwu Bashrah menyebutnya dengan (الأسماء الستة) dengan menambahkan هنوك.

Ini sebagian bukti yang menunjukkan bahwa Ibnu Ajurum menganut madzhab Kufah.

Banyak ulama yang menaruh perhatian yang besar tentang kitab ini, sehingga muncullah kitab-kitab yang menjadi pensyarah dan hasyiah dari kitab Ajurrumiyah ini. Diantara syarahnya antara lain:

1. Al Mustaqil bil Mafhum fi Syarh Alfadh Al Ajurrum, karangan Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad Al maliki(w 853 H/1449 M)

2. At Tuhfatus Saniyah bi syarh Al Muqaddimah Al Ajurrumiyah, karya Syeikh Muhammad Muhyiddin Abdul hamid.

3. Al Kharidah Al bahiyah fi i`rabi Al fadh Al Ajurrumiyah karya Al `ujami.

4. Mukhatshar jiddan karya Syeikh sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang kemudian di beri komentar (hasyiah) oleh seorang ulama Indonesia, KH. Muhammad Ma`shum bin Salim As Samarany dengan kitabnya tasywiqul Khalan.

5. Al Kafrawi fi i`rabi alfadhi al Ajurrumiyah. Karya Syeikh Al Kafrawy
Al `ismawi kaya Syeikh Al `ismawi

6. Syarah Syeikh Khaled yang kemudian di beri komentar oleh Syeikh Abi An Naja.
Syarah Muqaddimah Al Ajurrumiyah karya seorang 'ulama Wahaby Arab Saudi, Syeikh Ustaimin.

7. Khulasah Syarah Ibnu `ajibah `ala matan Ajurrumiyah Syeikh Abdul Qadir Al Kauhairy.
Nur As Sajiyah fi hill Alfadh Ajurrumiyah, karangan Syeikh Ahmad Khatib Syarbaini.

8.Taqrirat Al bahiyyah `ala matan Ajurrumiyah karangan Syeikh Qadhi Muhammad Risyad Al Baity As Saqqaf.

9. Al Futuhat Al Qayyumiyah fi hill wafki ma`any wa mabany matan Ajurrumiyah, karangan Syeikh Muhammad Amin Al harrary.

10. Ad Durar Al bahiyyah fi i`rab Amstilah Ajurrumiyah wa fakk ma`any karangan Syeikh Muhammad Amin Al harrary.

11. Al bakurah Al janiyyah min Quthaf i`rab Ajurrumiyah karya Syeikh Muhammad Amin Al harrary.

12. Syarah Ajurrumiyyah fi ilmi arabiyah karangan Syiekh Ali Abdullah Abdurrahman As Sanhury.

13. Syarah Al Halawy karangan Syeikh Al Halawy. Selain disyarah kitab ini juga pernah di gubah menjadi sebuah nadham oleh Al `Imrithy yang disyarah oleh beberapa ulama lainnya.

Dan masih banyak lagi yang lainnya, seakan kitab ini benar-benar membuktikan keberkahan yang diberikan Allah padanya.






Share:

Catatan Haul Imamain - Darul Hadist Al-faqihiyyah, Malang - 2014

Pada Haul tahun lalu (2014), usai beberapa pejabat negara memberikan sambutannya, seorang pejabat lagi dari petinggi kepolisian diminta untuk memberikan sambutan pula, dan diantara isi sambutannya adalah yang membuat saya terkesima (seperti lagunya bang Haji MaRama) adalah beliau mengatakan "Mohon maaf, karena tidak sepatutnya saya berada disini apalagi untuk memberikan sambutan, karena saya kesini bukan karena perintah atasan, tapi saya datang kesini karena saya kepingin dekat dengan para ulama' habaib dan wali Allah, bahkan jika saya disini hanya untuk disuruh melayani atau mijitin beliau-beliau saya juga rela"
Kemudian disela-sela sambutannya beliau juga mohon diijinkan membaca tulisan nama dari Imamain Shohibul Haul, karena beliau mengatakan bahwa ada kebanggaan bagi dirinya ketika dia bisa menyebut nama Imamain, dan saya (penulis) merasa gembira sekali bahwa beliau berhasil membaca tulisan nama Imamain lengkap dengan gelarnya yang panjang itu, karena bahkan ta'mir masjid bahkan orang sekelas Gus Ipul saja sering kurang familier dan terkadang terkesan masih terbata-bata untuk menyebut nama sejenis atau bahkan untuk sekedar menyebut nama Keluarga dari para Ahlul bait semisal Assegaf, Baraqbah, Al-habsyi, Al-Aydrus, dan lain-lain termasuk juga nama keluarga dari Bilfaqih.
Saya pribadi salut pada Bapak Erik (Maaf, gak tahu nama lengkapnya & gelarnya), karena bahkan dengan dapat menyebut Nama Shohibul haul saja sudah merasa ada kebanggaan tersendiri baginya, demikian karena kecintaannya kepada orang sholeh, sebagaimana salah satu Hadist Rasulullah saw yang juga dikutipkan oleh YM. ustadzunal Habib Aburrahman bin Abdullah bilfaqih saat haul pula "Man Ahabba Awliyaa Allah, wa Amilath Tho'aat, Kaana Fil Jannah" barangsiapa mencintai para wali Allah, dan mengerjakan amal ketaatan pada Allah, maka dia berada di Syurga"




Share:

Keluarga Dewi Kunti

Saat itu Kunthi baru saja menikah dengan Pandu, beberapa hari kemudian Pandu ikut perang, Pandu pun memenangkan peperangan, Pandu kembali ke Hastinapura bersama dengan seorang Putri dari Kerajaan Madra yang dikalahkannya karena raja Madra sudah berjanji barangsiapa memenangkan perang melawan kerajaannya maka akan dinikahkan dengan putrinya yaitu putri Madrim ...

Hati Kunthi pun seakan tercabik-cabik, galau tiada tara ... namun lambat laun kunthi belajar untuk menerima Madrim hidup berdampingan dengan suami "bersama" yaitu pandu, dan akhirnya mereka memiliki anak-anak yang diberkati oleh dewa-dewa dengan julukan Pandawa.

Ke-"shalihah"-an kunthi selama melayani guru "mursyid" nya yaitu Resi Druwasa, berlanjut pada ke-shalihah-annya ketika sedang diuji bersama sang suami & sang madu, hidup terasing di hutan lagi, beberapa tahun kemudian suaminya bersama dengan istri madu-nya wafat, tinggallah Kunthi hidup bersama anak-anaknya yang masih butuh bimbingan dan menyambung hidup.

Menginjak awal kehidupan remaja, anak-anaknya pun dipaksa untuk meninggalkannya karena harus menempuh pendidikan alias "mondok".

Dalam kisah Mahabharata, Pandawa & Kurawa pada Mondok di tempatnya Guru Drona sampe beberapa tahun. Tradisi mondok ini juga dikenal di dalam kisah Ramayana, Sri Rama, dan adik-adik nya juga pernah menempuh pendidikan (mondok) di tempatnya Resi Wasista sampai masa remaja.


Jadi, Tradisi mondok yang kurang dikenal masa Rasulullah saw. adalah Tradisi orang Hindu yang diadaptasi orang Islam khususnya di Jawa, sama dengan Tradisi Tahlilan ... (Jare Tonggo Sebelah)

piye coba ... ?? *hidup seperti cerito wayang ...



Share:

Antara Provider/Organizer (Penyedia Jasa) & Klien/Customer/User

Bukan bermaksud untuk sebuah curhatan, tapi karena sering sekali menghadapi kondisi yang berulang, maka terpikir oleh saya untuk menuliskannya, barangkali setelah menulis ataupun suatu saat nanti bisa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri, ketika kembali menghadapi situasi yang sama kembali. 

Dalam benak saya tiba-tiba terlintas pikiran seperti ini, bahwa konsep Usaha Jasa/Pelayanan itu :

- Ta'awun 'alal Birri (Saling membantu dalam mencapai kebaikan bersama)

"saling membantu" itu dapat terjadi jika dua pihak (yang dilayani & yang melayani) dapat saling koordinatif, bukan sebaliknya salah satu pihak bertindak semena2, ketika seorang customer merasa dapat membayar berapapun cost nya, meminta yang aneh-aneh dan diluar jangkauan sang pelayan, begitupun sebaliknya seorang yang merasa sebagai organizer/planner kemudian merasa di dibutuhkan bertindak semena-mena memeras klien & memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar harga & standar layanannya.

bukankah meletakkan sesuatu bukan pada porsinya itu disebut "Dzolim/Kezaliman" ?!! maka dari itu mari saling "service-menservice" dengan dilandasi niat tulus untuk mencapai "kebaikan" , semoga dengan begitu disamping rizki & kenyamanan, juga mendapat "Keberkahan" , berkah adalah "ziyadatul Khoir wa dawaamuhu" (bertambahnya kebaikan & disertai kelanggengan kebaikan yang dicapai)

Tanpa keberkahan "kebaikan" yang dicapai hanya akan bersifat "Short Time" ... dan yang "Short Time" itu biasanya memang dilakukan di tempat-tempat yang gak standard, sempit, jorok, terselubung, dan gak aman, plus suka ada razia polisi, kena grebek dahh ...



Share:

Edisi Kangen India

1. Salah satu riwayat mengatakan bahwa diantara bahan baku penciptaan nabi Adam (alaihissalam) adalah tanah yang diambil dari negeri India,
2. kemudian riwayat lainnya juga menyebutkan bahwa ketika nabi Adam diturunkan dari surga juga pertama kali menginjakkan kakinya di India, dan menetap berapa lama di india, bahkan binatang-binatang rela jauh2 menziarahi beliau di negeri India.
3. Ada riwayat juga mengatakan bahwa Air banjir nabi Nuh (alaihissalam) juga keluarnya dari India
4. Salah satu jenis kayu yang pernah disebut Rasulullah saw. untuk pengobatan adalah Kayu yang berasal dari India
5. Sahabat 'Ali (radliyallahu 'anh) menturkan bahwa lembah-lembah yang paling baik dikalangan manusia adalah lembah yang ada di Makkah dan lembah yang ada di India
5. Seorang Sahabat Ubay bin Ka'ab juga berkeinginan untuk hijrah dijalan Allah menuju ke India.
Share:

Menu Es Campur

F